Selasa, 06 Oktober 2009

'ABDUL MALIK IBN QURAIB AL-ASMAI (740 - 828)

Ahli Fisiologi

Al Asmai adalah seorang ahli fisiologi yang memberikan kontribusi penting pada Zoologi, Botani, Peternakan Hewan.
'Abdul Malik ibn al-Quraib al-Asmai dilahirkan di Basrah pada tahun 740. Dia adalah seorang Arab yang saleh dan murid puisi Arab yang baik. Al-Asmai dianggap sebagai ilmuwan Muslim pertama yang memberikan kontribusi pada Zoologi, Botani, dan Peternakan Hewan. Tulisannya yang terkenal adalah Kitab al-Ibil, Kitab al-Khalil, Kitab al-Wuhush, Kitab al-Sha, dan Kitab Khalq al-Insan. Buku terakhir mengenai anatomi manusia menunjukkan pengetahuan dan keahliannya yang luas mengenai subjek ini. Al-Asmai meninggal pada tahun 828.

Ketertarikan pada peternakan kuda dan unta merupakan alasan bagi karya ilmiah yang sistematis oleh orang Arab mulai dari abad ke-7. Selama Kekhalifahan Umayyah, perilaku dan klasifikasi hewan dan tanaman dipelajari dan dicatat oleh beberapa ilmuwan. Karya Al-Asmai sangat populer di antara para ilmuwan abad ke-9 dan ke-11.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Sedikit Demi Sedikit Lama-Lama Jadi Bukit

Pepatah ini sederhana saja, “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Kita biasa memaknainya, bahwa bila kita mengumpulkan sesen demi sesen, pada saatnya kita akan dapatkan sepundi. Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat, atau ketekunan menabung.
Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung keeping uang, yaitu : bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.
Bagimanakah tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih saying di dalamnya. Ucapan terima kasih, sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja. Namun dalam liputan kasih saying, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.

Hati Adalah Raja


Ibarat pisau bermata dua, ia bisa menjadi organ tubuh paling taat, atau menjadi yang paling bermaksiat. Mendorong pemiliknya untuk mengorbankan jiwa dan raga, atau membujuknya menjadi pecundang, memotivasi kekerasan tanpa belas, atau pengabdian tanpa batas.

Ialah yang menentukan hitam-putihnya akhlak seseorang. Ia pula yang menjadi barometer “keberesan” seluruh anggota badan. “Jika ia baik, maka baiklah seluruh raga. Namun jika buruk, buruk pulalah seluruh raga,” demikian sabda Nabi. Oleh sebab itu, perbaikilah dan penjagaan kondisi hati merupakan kebutuhan tak terelakkan.


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Flowers and Decors. Powered by Blogger